RSS

Mind Full or MindFul? Bagian Terakhir

19 Mar

Yaa kurang lebih satu bulan belum bisa melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Mind Full or MindFul?” dan akhirnya kesempatan itu datang juga. Sebelum kita lanjut ke topik selanjutnya yaitu MindFul alangkah baiknya kita refersh sejenak mengenai Mind Full.

Mind Full terdiri dari dua suku kata yaitu Mind yang artinya pikiran dan Full yang artinya penuh. Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia yaitu Pikiran Penuh. Banyak hal yang menyebabkan hal ini terjadi misalnya terlalu banyak permasalahan mengenai pekerjaan, hubungan percintaan dan masalah perekonomian. Banyak juga ditimbulkan karena ekspektasi yang terlalu tinggi pada suatu hal sehingga bila tidak tercapai maka akan mengalami rasa kecewa dan stress. Singkat kata seperti itu, untuk lebih jelasnya baca: Mind Full or MindFul? Bagian 1.

IMG_1216

Ya, kita lanjutkan ke bahasan selanjutnya yaitu MindFulMindFul  adalah sadar atau dalam keadaan sadar secara utuh. Kita bisa melihat perbedaan yang sangat jelas pada gambar diatas bahwa pada gambar sebelah kiri adalah sorang manusia dengan banyak pemikiran dan memenuhinya sedangkan pada gambar kanan adalah seekor hewan yang hanya berpikir seperlunya sesuai yang ia lihat dan dapat dikatakan sadar.

Ya, kita (manusia) sering kali mengalami hal itu (Mind Full), penulis mengalami hal itu, orang lain mengalami hal itu dan mungkin sebagian besar  orang pernah mengalami hal itu. Nah bagaimana kita mencapai dari Mind Full menuju MindFul?. Kesadaran merupakan kondisi dimana kita mawas diri terhadap diri sendiri, lingkungan dan termasuk hubungan dengan sang pencipta. Kesadaran juga bisa diartikan sebagai kondisi dimana seorang individu memiliki kendali penuh terhadap stimulus internal maupun stimulus eksternal. Namun, kesadaran juga mencakup dalam persepsi dan pemikiran yang secara samar-samar disadari oleh individu sehingga akhirnya perhatiannya terpusat.

Terdapat berbagai macam dan jenis teori dalam kesadaran itu sendiri. Untuk lebih lengkapnya baca: Kesadaran karena penulis tidak akan menjabarkan panjang lebar tentang kesadaran. Kembali ke topik yaitu bagaimana mencapai kesadaran atau mawas diri ini? ya banyak hal yang bisa dilakukan. Setelah saya mencari  terdapat beberapa yang sangat bagus menurut penulis seperti baca: Membangun Kesadaran Rasa Sejati, kalau yang satu ini berbicara tentang kesadaran yang menurut penulis muatannya berat untuk dicerna namun bagus dan berkualitas.

Hal lain yang mengakatan Kesadaran=Keikhlasan=Kemudahan, bernarkah begitu? Kalau memang benar in akan menjadi bonus besar bagi kita semua. Mengapa tidak? karena ada yang beranggapan ikhlas itu susah, ikhlas itu sulit, dan bagaimana caranya ikhlas itu? seringakali saya mendengar keluhan seperti itu, dan termasuk penulis juga tidak memungkirinya. Kita simak bebrapa hal sebelum menjurus langsung topik perbincangan.

Zaman informasi datang begitu deras, di mana kita belum sempat mengolah informasi sebelumnya secara sadar, informasi lainnya sudah membanjiri diri kita. Lewat internet dan media massa kita mendapat “hantaman-hantaman” informasi dari seluruh pelosok negeri yang dihadirkan setiap saat sehingga membuat kita “mabuk” informasi. Dalam keadaan “teler” begitu kesadaran amatlah mahal.

Dalam era globalisasi seperti saat ini semakin terasa betapa kita memerlukan orang yang kuat kesadarannya lebih banyak daripada orang yang sekedar banyak pengetahuannya (pintar). Kesadaran akan keterbatasan miliknya, juga kesadaran (benar-benar merasakan) “kesempurnaan” yang menjadi fitrahnya. Keikhlasan tidak dapat dibangun dengan kepintaran yang secara sengaja telah mengalami peningkatan melalui sekolah. Keikhlasan dapat diakses melalui kesadaran akan kekuatan ikhlas yang begitu dahsyat manfaatnya bagi hidup kita.

“…barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya) ….. dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” ( Ath-tholaq : 2-4)

Lihatlah! Betapa kemudahan adalah paket lanjutan dari keikhlasan. Di mana ketika seorang hamba mampu bertaqwa (murni beriman) kepada Allah, Allah menjanjikan baginya jalan keluar. Ketika seorang hamba bertawakkal (murni berserah) kepada Allah, Allah mencukupkan keperluannya. Dan pada ayat terakhir sangat jelas! Niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Keajaiban yang terjadi di sekeliling kita, mulai kita kaitkan dengan aspek hoki alias keberuntungan. Ketauhilah bahwa sesungguhnya keberuntungan pun dapat kita ciptakan. Keajaiban, sesungguhnya adalah proses alamiah dan ilmiah yang sudah dipersiapkan untuk kita nikmati lengkap dengan kode akses rahasianya yaitu IKHLAS. Mengapa dikatakan ilmiah?

Akses menuju keberuntungan adalah ikhlas. Ikhlas adalah software yang secara fitrah sudah ada dalam diri kita masing-masing bahkan sejak bayi. Artinya, di dalam diri kita ikhlas telah mempunyai tempat tersendiri (zona ikhlas). Sebuah miracle atau keajaiban terjadi karena ketika seseorang ikhlas berserah diri sesungguhnya ia sedang menyelaraskan pikiran dan perasaannya dengan kehendak Ilahi yang menghasilkan kolaborasi niat yang luar biasa pada level kuantum di zona ikhlas. Saat terjadi, kemudahan dari Allah (sering kita sebut keajaiban) seolah otomatis hadir dalam hidup kita.

Segala kemudahan (keajaiban) yang didapat dari keikhlasan yang kita akses tidak mungkin dapat kita rasakan jika kita tidak memiliki kesadaran yang cukup. Kita hanya akan menganggapnya sebuah kebetulan. Karena itu, ketika seseorang secara”sadar” menggunakan “keikhlasan” dalam setiap tatanan kehidupannya, berbagai “kemudahan” seakan mengalir tanpa hambatan. Dan kesadaran inilah yang menjadikannya “ketagihan” menggunakan ikhlas sebagai kekuatan.

“Ikhlas itu kunci keberhasilan. Para salafushalih yang mulia, tidak menang kecuali karena kekuatan iman, kebersihan hati, dan keikhlasan mereka…” (Hasan al-Banna)

(Hasfinda Fakhir Mufid – Kontributor 100topalestine.org)

Dari kutipan diatas, sadar sangat diperlukan dalam keikhlasan dan mencapai kemudahan. Bagaimana memperoleh kesadarannya? Jawabanya adalah tanyalah pada diri anda sendiri?

Pembahasan pada topik Mind Full or MindFul berakhir  disini. Semoga berguna dan bermanfaat bagi para pembasa sekalian. Saran dan Kritik sangat diperlukan bagi penulis. Tunggu tulisan-tulisan bermanfaat lainya dan bisa menulis se-bijaksana mungkin.

Salam Lestari -N.R.v.S-

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19/03/2016 in Motivation, Penulis, Quotes, Renungan

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: